Smile FF

bc6900dejw1e1a7y4lyzuj

Author                         : Leiron Uzu Miki @Laili_Arifah

Main Cast                    :

  •   Park Hyun Ah (O.C.)
  •   Lee Hyukjae a.k.a Eunhyuk
  •   Park Jung Soo a.k.a Leeteuk (Hyun Ah Appa)
  •   Lee Sungmin

Genre                           :  Sad, Tragic and Romance

Length                         : Yang jelas bukan One Shoot yah ^_^

            Jujur yah, ini adalah FF pertama author. FF pertama udah ngajak bershoot-shoot..*deg…deg…

            *Masih baru banget jadi Author(jadi masih anget-angetnya nggak tau apa-apa)

            Maaf jika tulisan author terlalu alay, tragis, formal dsb. Mohon maklumi yah. Ngepost ini aja dipaksain mulu sama owner WP ini. *mian unnie :D

            Hope you like it :) . Mianhaeyo~

Guilt will always nested in you
and I’m going to change with a smile
so you can get back …

Suara hembusan angin sore yang sejuk nan lembut melewati rambut Hyun Ah yang tergerai indah sepanjang punggung tubuhnya. Pakaian yang ia pakai selalu sama. Pakaian pemberian namjachingu yang sangat di cintainya. Pakaian tersebut sudah terlihat lusuh dan kotor, terdapat bercak darah di beberapa bagiannya menandakan terjadi suatu kejadian yang sangat tragis telah terjadi dalam pakaian tesebut. Seperti biasa, di dalam lamunanya hanya terdapat tatapan mata yang kosong. Jika ingatan lalu itu kembali teringat di dalam otaknya dengan cepat suasana hatinya akan berubah menjadi gelisah dan merasa ketakutan.

-flash back on-

“Appa, aku boleh izin keluar dengan oppa? Aku ingin pergi dengan oppa sebelum oppa berangat ke Kanada. Bolehkah appa?” rengek Hyun Ah.

“Eeeemmmmm…” gumam Appa Hyun Ah.

“Ish appa…jawaban apa itu? Tidak jelas appa. Boleh ya aku pergi? Appakan namja paling ganteng sedunia.” Bujuk Hyun Ah lagi.

Tapi jawaban dari appa Hyun Ah tetaplah sama.

“Ayolah appa… aku janji tidak akan menghabiskan kartu kreditku lagi… Ku mohon appa” rengek Hyun Ah lagi dengan wajah menyedihkan andalannya.

Tok… tok… tok…

“Permisi tuan…” kata seorang namja dengan membuka gagang pintu ruangan tersebut.

Appa Hyun Ah hanya menjawab dengan senyuman kecil tapi cukup manis dan dengan segera mempersilahkannya untuk duduk. Sedangan wajah Hyun Ah yang putih berubah menjadi warna merah yang sangat terlihat perbedaannya. Tanpa ragu-ragu namja tersebut duduk tepat di depan Hyun Ah. Karena terlalu salah tingkah, Hyun Ah tidak melihat kontak mata antara dua orang namja di depannya. Diam-diam kedua namja tersebut sudah merencanakan rencana yang tidak diketahui oleh Hyun Ah.

Beberapa menit kemudian namja tersebut pamit kepada Appa Hyun Ah dengan menggandeng tangan kanan Hyun Ah.  Setelah keluar dari ruangan, tanpa banyak bicara namja tersebut menyeretnya masuk menuju mobil audi berwarna silver yang sudah terparkir di halaman.

“Oppa… aku mau kau bawa kemana? Kau belum dapat izin dari Appa. Cepat lepaskan tanganku, sakit sekali rasanya!” teriak Hyun Ah.

“Sudahlah. Appamu sudah memberikan izin padaku tadi. Kau tidak melihatnya? Diamlah! Dan cepat pakai sabuk pengamanmu.“ Titah namja tersebut dengan tegas.

“Aniyo…memang kau siapa hah? Main perintah terhadapku seenaknya sendiri.” Jawab Hyun Ah dengan ketus.

Tiba-tiba namja tersebut mendekatkan wajahnya pada Hyun Ah sehingga membuat detak jantungnya berpacu lebih cepat.

“Aku adalah Lee Donghae dan aku adalah namjachingumu. Apakah kau lupa akan hal itu nona Hyun Ah?? Jadi, aku berhak untuk menyuruhmu! Kau tidak usah bawel, karena apapun yang kulakukan itu untuk kebaikanmu juga. Sebelum aku pergi jauh aku akan memberikan kenangan termanis dan terindah untukmu sehingga kau tidak akan melupakannya.” Tutup namja tersebut dengan mengacak-acak rambut Hyun Ah.

Hyun Ah hanya menjawab dengan omelan tanpa suara. Donghae langsung tancap gas membuat Hyun Ah yang sedang ngomel sendiri berpindah menjadi mengomelinya.

Setelah sampai di tempat tujuan Hyun Ah dan Donghae masuk kedalam. Tempat tujuan mereka adalah Lotte World. Banyak sekali pengunjung yang datang saat itu. Saat-saat liburan seperti ini memang digunakan semua orang untuk menyegarkan diri. Donghae dan Hyun Ah mencoba semua wahana yang ada. Terlebih dahulu mencoba kereta luncur.

“Chagiya..apakah kau tidak merasa kehausan? Dari tadi kau belum minum apa-apa setelah bermain.” Ucap Donghae.

“Euhm…aniya oppa. Asal ada oppa disisiku aku tidak akan merasa kehausan.” Jawab Hyun Ah dengan manis.

“Memang aku ini galon air minum?? Sudahlah…akan kubelikan minum untukmu. Agar kau tidak kehabisan suara nanti. Arasso??” Tanya Donghae.

Hyun Ah menjawab dengan senyum. Terlihat sekali suasana hatinya pada saat itu sangat senang. Karena terlalu senangnya Hyun Ah tidak merasa kalau gerak-geriknya sedang di awasi oleh seseorang. Merasa waktunya sudah tepat  orang tersebut menyiapkan pistol yang ia bawa diam-diam. Hyun Ah adalah anak dari seorang detektif terkenal dan handal dalam menangani masalah, tentunya memiliki segudang kawan dan lawan. Sedangkan Donghae adalah anak angkat Appa Hyun Ah. Orang tua Donghae adalah sahabat Appa Hyun Ah. Mereka meninggal karena kecelakaan mobil.

Jediaaaarrrrrr…(anggap suara tembakan yah)

Dengan sigap Donghae berlari menuju arah Hyun Ah untuk memastikan keadaannya. Tembakan tadi sudah di pastikan di tujukan pada Hyun Ah. Keadaan dengan cepat berubah menjadi kacau balau. Beruntungnya tembakan pertama tadi meleset. Tanpa pikir panjang Donghae membawa Hyun Ah pergi dari tempat itu. Sialnya di luar juga banyak terdapat kawanan penembak tadi.

Keadaan Donghae dan Hyun Ah sekarang sudah terjepit. Dengan peralatan seadanya Donghae melindungi Hyun Ah. Saat Donghae dan Hyun Ah masuk mobil sebuah tembakan di lepaskan salah satu kawanan penembak. Tembakan tersebut mengenai tepat di dada kiri Donghae. Sedikit demi sedikit darah segar keluar dari dalam tubuh Donghae.

“Oppa…” teriak Hyun Ah dalam tangis.

“Chagiya… mian aku jika aku kurang bisa menjagamu dan membuatmu bahagia.  Jeongmal Mianhaeyo Chagiya. Sarangahaeyo Park Hyun Ah.” ucap Donghae pelan.

“hiks.. na… do… sa… rang…hae.. yo… oppa… hiks… oppa… jangan tinggalkan aku.” Pinta Hyun Ah.

“Kau… akan… men.. da.. pat.. kan.. yang… le… bbih… baik… dariku…” ucap Donghae  dengan suara yang lemah.

“Seseorang… tolong aku… Help me…” teriak  Hyun Ah.

“Oppa…kau pasti akan tertolong. Kuatkan tubuhmu. Kau jangan seperti itu. Aku akan marah denganmu. Demi aku oppa…Jebal…hiks..” ucap Hyun Ah pada Donghae.

Donghae hanya tersenyum melihat orang yang ia cintai, sesekali dengan menahan rasa sakit di dadanya. Donghae mengambil nafas dengan berat dan ia hembuskan. Setelah itu tidak ada tarikan nafas lagi darinya.

“OOOPPPPPAAAAAAAAAAAAAAAA………….”teriak Hyun Ah sambil memeluk tubuh Donghae yang sudah tak bernyawa itu.

-flash back off-

“Hyun Ah… ayo kita masuk ke rumah. Ini sudah sore, tidak baik untukmu. Donghae pasti akan marah jika kau seperti ini terus.” Bujuk Appa Hyun Ah.

“Donghae? Oppa ada disini? Oppa sudah pulang dari Kanada? Appa tidak bohong?” Tanya Hyun Ah dengan nada gembira.

Appa Hyun Ah menatap sedih kelakuan putri kesayangannya. Sudah tujuh bulan dari kematian Donghae  tapi keadaan Hyun Ah tetaplah sama. Appa Hyun Ah sudah membawanya ke psikiater teremuka. Tapi, hasil yang di dapat tetaplah nihil. Setiap Appa Hyun Ah mengajaknya untuk masuk ke rumah saat menjelang malam, Hyun Ah selalu bertanya tentang Donghae. Jawaban yang dikelurkan Appa Hyun Ah juga tetap sama “ Donghae sudah meninggal chagiya  apakah kau tidak mengerti? Bisakah kau sadar dari rasa bersalahmu? Donghae meninggal bukan karenamu, dia lebih memilih untuk melindungimu daripada dia melihat kau yang meninggal. Ku mohon kau mengerti sayang…”.

Other Place-

 

“Na… Na… Na…one two three… bup… bup… ” Alunan musik terdengar di telinga Hyukjae. Berjalan dengan sedikit melakukan gerakan dance yang ia ciptakan sendiri. Kaki kiri melangah kedepan lalu tangan kanan ke atas berputar dilanjutkan dengan kaki kanan melangkah kebelakang, kepala sedikit dibengkokan kekanan dan sebaliknya.

“Promise You, kimiwo mamotte bokuwa ikitai munega atsuku (konokoi fureteru?)
Promise You, todoketainowa tada aishiteru itsudemo yuruganai omoide

Moshimo ashitaga yamini nomarete michishirube sae naitoshitemo
Kowagaru kotowa naiyo konotewo hanasanai kagiri
Bokurawa (kitto) dokoedemo ikeru”

 

 

 

 

 

 

 

 

Tiba-tiba music yang diputar Eunhyuk berganti dengan nada pesan masuk. Dengan segera Eunhyuk mengambil I-Phonenya yang berada di saku celananya. Tertulis “1 Message from Pinky Boy”.

Hei  Monyet jelek…dimana kau ??
Aku sudah lama menunggumu di sini. Cepat kau kesini !!!
Aku takut sendirian…

“Dasar Pinky Boy..Tidak bisakah dia membiarkanku santai sebentar. Ish..” gerutu Eunhyuk dalam hati dengan berlari menuju sebuah pemakaman yang sudah tidak jauh lagi. “Ikan Mokpo aku kangen sekali padamu. Sudah lama kita tidak bertemu. Apakah kau baik-baik saja ?? Aku membawa hal yang paling kau sukai dariku … Smile”.

Lambaian tangan seorang yang berkulit putih dan mempunyai paras seperti anak SMU dan aegyo yang sangat manis mengarah pada Eunhyuk yang sedang berlari menuju kearahnya. Seseorang itu telah menungu Eunhyuk lama. Walaupun Eunhyuk telat 1 jam dari perjanjian yang telah disepakati ia tetap menunjukkan senyumnya yang ramah.

“Ya..Lee Hyukjae…Waeyo? Apakah kau lupa jika hari ini adalah hari peringatan kematian Donghae. Bukankah kau juga sangat dekat dengannya ?? Kenapa bias terlambat datang huh ??? Beri penjelasan padaku yang jelas. Aku sudah menunggumu dari satu setengah jam lalu..” gerutu Sungmin.

“Mianhae king aegyo..aku sudah agak lupa dengan jalanan ini. Kau tau sendiri kalau aku baru saja datang dari Paris. Jadi, maklumilah aku..” balas Eunhyuk.

“Kau itu…alasan saja..” ucap Sungmin cemberut.

“Itu juga salahmu sendiri. Kenapa kau tidak menjemputku saja di apartemen? Tadi juga aku sempat salah naik bus tau…” jawab Eunhyuk.

“Ya sudahlah..kajja kita pergi. Aku sudah tak sabar lagi bertemu dengan Hae.” Ucap Sungmin dengan menarik tangan Eunhyuk.

@Pemakaman

“Hi Ikan Mokpo …apa kabarmu? Aku sudah lama sekali tidak bertemu denganmu. Apakah kau senang dengan tempatmu sekarang? Kita sudah lama tidak berlatih dance bersama. Apakah kau disana juga masih berlatih dance SPY yang kita ciptakan bersama? Aku sangat rindu saat benyanyi bersama denganmu..” ucap Eunhyuk sambil menatap nisan yang bertuliskan Lee Donghae.

“Hae…kenapa kau meninggalkan kami tanpa berpamitan. Pasti ini semua gara-gara wanita itukan? Dari awal aku sudah tidak setuju kau menyukainya. Sekarang yang dikorbankan siapa lagi kalau bukan kau. Kami sangat rindu saat bersama-sama denganmu. Saat kita bertiga berlatih bersama di aula sekolah untuk kelulusan kita. Itu adalah hari terindahku saat bersamamu. Saat semua penonton bertepuk tangan dan meneriaki nama kita. Kita adalah sekelompok pemuda yang dipuja-puja oleh seluruh yeoja di sekolah kita. Di depan kita terdapat bermacam-macam tulisan. Pinky boy … Jewel monkey … Fishy.. semua yeoja terus meneriaki nama kita. Aku dan Eunhyuk tersenyum pada mereka semua. Tapi, kau malah memberikan senyummu kepada yeoja yang berada di depan panggung dengan memakai baju putih dan berbandana. Menurutku dia tidak cocok memakai baju seperti malaikat itu. Dia lebih pantas memakai baju hitam. Karena itu lebih cocok dengannya.” ucap Sungmin

“Ya ..king aegyo. Kenapa kau malah membicarakan dia. Tujuan kita kesini adalah menghibur Hae yang kesepian. Kau sendiri, berada di Korea tapi tidak mau menengok Hae. Lihat! Makamnya penuh dengan rumput liar.” Ucap Eunhyuk dengan kesal dengan membersihkan rumput-rumput dan dedaunan yang jatuh. *Tuing ..tuing…secara ya, suami aku itu (read*Eunhyuk) suka banget sama bersih-bersih J jadi sedikitlah nyempil.

“Mianhaeyo Eunhyuk~ah…aku tidak berani datang kesini sendiri. Kau tau sendirikan kalau aku ini penakut” jawab sungmin dengan sedikit terisak.
Eunhyuk hanya mendegus kesal melihat kelakuan temannya itu. Eunhyuk bisa memaklumi kenapa Sungmin begitu membenci Hyun Ah. Sewaktu masih awal masuk SMU, Sungmin begitu dekat dengan Hyun Ah. Tanpa di sangka, Sungmin menyukai Hyun Ah. Sedangkan Hyun Ah malah menyukai Donghae. Dari situlah Sungmin yang sudah biasa dengan Hyun Ah agak menjaga jarak. Donghae tidak tau masalah ini. Hanya Eunhyuk yang tau akan hal itu. Mati-matian Sungmin melawan rasa cemburunya pada Donghae. Sering kali Donghae meminta bantuan pada Sungmin untuk menemani membelikan hadiah untuknya. Dengan berat hati Sungmin akan berkata “ne” pada Donghae.

*EUNHYUK POV*

“Sungmin-ssi apakah sebenci itu dengan Hyun Ah? Tidak taukah kau sekarang dia sedang menderita. Apakah kau tidak pernah menoleh padanya lagi? Aku sering dimintai bantuan oleh appanya. Tapi, karena aku berada di Paris jadi tidak bisa berbuat apapun.” Ucapku.

“Ah jinjja?? Itu adalah hukuman untuknya.” Jawab Sungmin hyung dengan ketus.

“Ish…kau itu.. dia tidak salah hyung. Justru kau yang salah..” balasku.

“Mwoya???!!! AKU? Salah dimana aku?? Jangan-jangan kau suka padanya ya kenapa kau terus saja membelanya.” Ucap Sungmin hyung.

“Aniya hyung.. Kenapa aku membelanya karena memang kau salah menurutku. Kau itu terlalu memaksa kehendakmu itu hyung. Toh, sekarang Hae sudah meninggal. Paling tidak kau bisa mendekatinya lagi. Masih ada kesempatan hyung..He..he..he..” Ucapku.

“Pluk..”Sungmin hyung menggetok kepalaku.
“Ya…waeyo..?? kenapa kau memukulku hyung ?? Tanyaku.

Sungmin hyung tidak menjawab apa-apa…tidak mulutnya masih ngomel tidak jelas. Aku tau kalau hyung masih menyukainya. Terlihat dari matamu hyung. Kau tidak bisa berbohong kepadaku.

*EUNHYUK POV END*

TO BE CONTINUED
Nanggung banget ya kayaknya, semoga Tuhan cepat memberikan idenya pada author.
Comment Please :)

**GOMAPTA*

~ by Ely on January 29, 2013.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: